Tuesday, December 23, 2008

Nilai Dalam Konstelasi Waktu

Waktu adalah suatu rentangan garis kontinuum. Yaitu garis yang membentang
terus menerus secara tidak terputus-putus. Malahan garis itu tidak
mempunyai titik awal. Dan belum sampai atau bahkan tidak mempunyai titik
ujung.

Otak manusia tidak mampu memahami garis spektakuler semacam itu. Maka otak
membaginya ke dalam dua bagian kelompok utama. Kedua kelompok utama itu
ialah kelompok "waktu sekarang" dan kelompok "bukan-sekarang". Bagian
pertama kelompok waktu "bukan-sekarang" ialah penggalan garis waktu dari
titik sekarang yang surut ke belakang. Disebut waktu lampau. Dan bagian
kedua, ialah penggalan garis waktu dari titik sekarang menuju ke
depan. Disebut
waktu mendatang.


From:


Karena titik waktu sekarang bersifat dinamis [terus bergerak] maka manusia
sebenarnya hanya mengenal waktu lampau dan waktu yang akan datang. Begitu
manusia berpikir tentang waktu sekarang maka periode itu serta merta telah
berubah menjadi bagian waktu lampau.

Pemenggalan waktu atau periodisasi mutlak dibutuhkan manusia. Ada jangka
pendek, menengah, dan panjang. Baik ke arah belakang, maupun ke arah
depan.

Disepakati kesatuan terkecil waktu ialah detik. [Kita lupakan saja istilah
nano-detik ataupun piko-detik]. Kemudian disepakati pula kesatuan menit,
jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu, dekade, abad, milenium dan
seterusnya.

*Periodisasi waktu. *

Periodisasi waktu dibutuhkan manusia untuk mengorganisir data maupun
informasi yang tercakup dalam kurun waktu tersebut. Ke arah masa lampau
demi kepentingan sejarah. Ke arah masa depan demi perencanaan jangka
pendek, menengah dan panjang. Tanpa perencanaan manusia tidak mampu berbuat
apa-apa untuk menghasilkan keluaran secara efektif dan efisien.



*Kaitan periodisasi dengan nilai.*

Kejadian masa lampau disebut fakta. Dalam bahasa Latin 'factum' berarti
sudah dibuat atau sudah terjadi. Kalau sudah terjadi maka tidak bisa
berubah lagi. Tidak ada kekuatan apapun yang mampu mengubah kejadian di masa
lampau. Maka disebut juga data. Data dari kata 'datum' artinya 'telah
diberikan' atau 'telah tersedia'. Sudah siap saji atau siap ditelan.

Kejadian di masa lampau ada yang manis dan ada yang pahit. Manusia suka
mengenang hal-hal yang manis. Tetapi tidak suka mengenang hal-hal yang
pahit. Hal-hal yang pahit telah menggores semacam luka di dalam batin
manusia. Luka batin itu dapat bertahan untuk waktu yang panjang. Bahkan ada
yang sampai seumur hidup.

Sikap manusia terhadap peristiwa yang pahit dan tidak mungkin diubah lagi
itu pada umumnya menyesalkannya. Dari perasaan yang ringan seperti kecewa,
menyesal sampai kepada penyesalan seumur hidup. Setiap kali teringat
peristiwa tersebut maka luka batin kembali mengeluarkan "darah" disertai
rasa nyeri. Melebihi nyeri disayat sembilu. Sayatan sembilu dapat sembuh
tetapi luka batin dapat bertahan seumur hidup.

Walaupun ada pepatah: "Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak
berguna" dalam kenyataannya tidak ada yang namanya "sesal dahulu". Sesal
selalu terjadi sesuah kejadiannya [secara post factum].

*Nilai Ikhlas*

Menghadapi kemungkinan munculnya rasa sesal berkepanjangan dan tidak
produktif ini manusia perlu mengadopsi *nilai ikhlas*. Ikhlas adalah
kemampuan moral untuk menerima fakta sebagai data konstan. Sebagai hal yang
tidak bisa diubah lagi. Jadi harus diterima sebagai apa adanya saja. Dan
diterima sebagai hal yang terjadi di masa lampau yang tidak perlu terus
menerus disesali pada masa sekarang.



*Nilai Syukur*

Menghadapi peristiwa-peristiwa sekarang manusia dapat merasa kecewa. Kecewa
karena tidak sesuai dengan target atau harapan seseorang. Manusia
menginginkan sesuatu yang lebih maksimal lagi. Manusia tidak puas dengan
sesuatu yang sifatnya minimalis. Maunya menjadi kaya raya tetapi
kenyataannya hanya mampu menjadi pegawai rendahan. Maunya mendapat untung
miliaran, nyatanya hanya mendapatkannya dalam angka ribuan saja.



*Nilai syukur* ialah nilai yang memandang situasi dan kondisi tertentu,
[termasuk pencapaian tertentu], sebagai hasil optimal yang tersedia. Bersyukur
karena tidak terjadi kondisi yang lebih parah lagi dari pada kondisi yang
terjadi sekarang.



Misalnya, ia sakit namun tidak sakit parah. Ia sakit keras tetapi tidak
sampai fatal atau mematikan. Ia mengalami musibah tetapi bukan yang
mengharuskan anggota tubuhnya harus diamputasi. Ia tidak kaya namun tidak
sampai harus tinggal di kolong jembatan.



Bagi orang beriman [beragama] kondisi optimal itu dipandang sebagai karunia
Allah. Atau berkat dari pada doa. Bagi yang tidak beragama kondisi optimal
itu dipandang sebagai suatu kemujuran [good luck]. Bukan suatu kemujuran
yang bersifat kebetulan [acak]. Melainkan suatu sinkronitas yang
positif. Positif
karena tidak mendatangkan kerugian [lebih besar lagi] bagi dirinya. Karena
itu ia merasa perlu selalu bersyukur.



*Nilai Pasrah*

Menghadapi masa depan manusia dibekali oleh dua bentuk antisipasi kejiwaan.
Dua kekuatan yang antagonis. Harapan yang besar dan indah. Atau sebaliknya
kekuatiran akan kegagalan. Ada semangat optimisme dan pesimisme.
*Optima*artinya keadaan terbaik.
Sedangkan *pessima* artinya keadaan terburuk.



*Optimalisme*

Manusia yang mentargetkan hasil yang *maksimalis* akan merasa kecewa karena
hasil maksimal memang tidak selalu mungkin tercapai. Manusia
*minimalis*menetapkan target yang terlalu rendah, maka iapun kecewa
terhadap kenyataan
hasil sebenarnya yang memang hanya minimal. Di antara kedua ujung ekstrim
tersebut terdapat kondisi yang lebih realistis dan terjangkau yaitu sasaran
*optimalis*.



Manusia sadar bahwa ia dapat mempengaruhi *output* di masa depan dengan cara
mempengaruhi *input* pada masa sekarang. Tetapi ia sadar pula bahwa ia tidak
mungkin mengendalikan sepenuhnya masa depannya. Terlalu banyak lobang
kebocoran pada jala yang menjaring peluang-peluang masa depan.

Terlalu banyak faktor variabel berada di luar kemampuan pengendalian
manusia. Terutama ia tidak mungkin mampu untuk mengendalikan takdirnya. Takdir
adalah faktor *konstante* yang sama sekali di luar pengendaliannya.



Bahkan banyak hal yang dapat terjadi berada di luar perkiraannya. Hal-hal
yang dapat meleset dari perhitungannya. Misalnya, siapa dapat mengira bahwa
negara Amerika Serikat yang superpower itu dapat ambruk demikian parah oleh
krisis keuangan dalam negerinya.



Maka dari itu terdapat kecenderungan sebagian manusia untuk menyenangi
ramalan-ramalan paranormal. Karena paranormalisme mampu memberikan
[sebagian] informasi tentang masa depan yang tidak mungkin terjangkau oleh
penalaran logis biasa.



Bagi manusia beriman [beragama] dalam menghadapi ketidakpastian masa depan [
*future* *uncertainties*] perlu diperlengkapi dengan perisai *nilai
kepasrahan.* Bukan jenis pasrah yang membuat orang tengkurap dan membiarkan
segala sesuatunya diatur oleh nasib semata-mata.



*Ora et labora*. Manusia beriman dengan nilai kepasrahannya mengandalkan
kekuatan doa dalam pengharapan dan sekaligus juga ikhtiar [*labora*]. Orang
yang tidak percaya lagi kepada kekuatan doa serta berhenti berikhtiar,
segera menjadi manusia yang berada di tepi jurang keputusasaan.

Sebaliknya manusia yang beriman dan yang berpengharapan tidak akan jatuh ke
dalam lembah kekelaman tersebut.



Kita mungkin masih teringat akan kisah ibu yang tega menghabiskan nyawa
anak-anaknya sendiri karena dikuasai rasa kuatir yang berlebihan. Kuatir
melihat fakta kondisi masyarakat yang semakin kompetitif di kemudian
hari. Kuatir
karena melihat kenyataan bahwa kemampuan anak-anaknya untuk bersaing dalam
kondisi semacam itu pasti bakal kalah sebelum berperang. Maka sebagai orang
tua yang bertanggungjawab ia memutuskan untuk menghindarkan kehancuran
semacam itu bagi anak-anaknya. Jalan pintas yang dipakainya ialah
menghentikan saja hidup anak-anaknya. *She was playing God.*



Orang semacam ini dapat saja beragama dan beribadah namun memiliki iman dan
harapan yang sangat minimalis. Ia hanya terpukau oleh kekuatan manusia
sendiri. Dalam hal ini kekuatan anak-anaknya untuk bersaing sendiri– di
kemudian hari. Ia meniadakan sama sekali peranan Allah sebagai yang
memberikan rezeki kepada semua manusia tanpa kecuali. Padahal Allah selalu
memberi panas matahari dan curah hujan kepada semua mahluk tanpa kecuali.



Manusia tidak percaya lagi terhadap kekuatan doa. Terhadap kekuatan
pengharapan [*ekspektansi*]. Dan terhadap kodrat Allah Yang Mahapemurah dan
Mahapenyelenggara. Mahapengasih dan Mahapenyayang. Manusia seperti itu
adalah manusia yang tidak mengadopsi nilai pasrah dan tawakkal ke dalam
koleksi sistem nilainya.



Jadi dapat disimpulkan bahwa manusia cukup dilengkapi nilai-nilai moral
[religi] yang dibutuhkan. Baik untuk menghadapi kenyataan di masa lampau, di
masa sekarang, maupun di masa yang akan datang.

Untuk menghadapi masa lampau ia dapat mengadopsi nilai ikhlas. Untuk masa
yang sedang berjalan ia dapat mengadopsi nilai syukur. Dan untuk menghadapi
tantangan masa depan ia dapat mengadopsi nilai pasrah dan tawakkal.



Mudahkah mengadopsi ketiga nilai moral [religi] tersebut?

Mengadopsi suatu nilai harus bersifat sukarela. Sungguh-sungguh diniatkan.
Dan pastilah memerlukan bantuan kekuatan illahi. Yaitu kekuatan di luar
kemampuan kodrati manusia. Manusia memerlukan bantuan illahi untuk mampu
mempertahankan nilai-nilai tersebut. Bantuan ilahi itu oleh orang beriman
disebut sebagai *rahmat'ullah* atau *kharismata. *Kekuatan yang dapat
diperoleh lewat doa-doa yang tekun. Doa yang berasal dari lubuk hati
manusia yang terdalam. Bukan sekedar doa verbal yang bacar keluar dari
mulut. Atau sekedar doa dari hasil olah pikiran atau perasaan manusia
semata. [JS]

1 comment:

  1. How to get to the slot machines at The Cosmopolitan Casino in
    The nearest MGM 보령 출장마사지 Grand 충청북도 출장마사지 Casino Hotel or Casino to The 강릉 출장샵 Cosmopolitan Hotel in Las 춘천 출장안마 Vegas is the Bellagio/Bally's. The 경상남도 출장마사지 Bellagio/Bally's Las Vegas

    ReplyDelete