Tuesday, December 23, 2008

Bacaan: Lukas 1: 46-56

Siapa yang tidak senang dengan pujian? Bisa dipastikan bahwa ketika dipuji
oleh orang lain, entah alasan apa pun, kita pasti akan senang. Tetapi, kita
terkadang kurang rendah hati sehingga menganggap diri sebagai orang yang
hebat dan istimewa setelah mendapatkan pujian itu. Kita kemudian menuntut
untuk dihargai dan diakui oleh orang lain!

Peristiwa Maria mengunjungi Elisabet merupakan sesuatu yang sangat penting
dan bahkan begitu punya pengaruh besar terhadap Elisabet yang sedang
mengandung anaknya dalam usia yang sudah lanjut. Karena perjumpaan dengan
Maria begitu berarti, lantas dia memuji Maria dengan penuh kerendahan hati:
"*Diberkatilah Engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah
rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku (Luk
1:42-43)*." Maria tidak besar kepala! Tetapi, setelah mendengarkan pujian
itu, Maria mengidungkan pujian (*magnificat) *atas kasih, kebesaran, dan
kuasa Tuhan dalam hidupnya. Dia mengakui dengan penuh kerendahan hati bahwa
segala apa yang dia alami dan dimilikinya, sehingga segela keturunan akan
menyebut dia berbahagia, adalah pertama-tama bukan karena kehebatannya,
melainkan karena kasih Tuhan semata. Segala pujian yang diterimanya
dipersembahkan kembali kepada Allah yang telah menunjukkan kemurahan dan
kesetiaan kepadanya.

Ada banyak hal yang kita capai di dalam hidup kita. Tetapi, apakah kita
pernah sadar bahwa segala apa yang kita terima adalah semata-mata pemberian
dari Allah? Apakah kita pernah bersyukur dan mempersembahkan kembali kepada
Allah atas apa yang telah kita capai? Mari, kita meneladan kerendahan hati
Maria yang senantiasa sadar tentang dirinya sebagai orang yang dikasihi oleh
Allah dan selalu menyediakan dirinya sebagai alat-Nya. *(bastian-wawan, cm)*

--
Syalom :)

oleh: Fr. Bastian-Wawan, CM

No comments:

Post a Comment