Saturday, December 27, 2008

Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku

oleh:Rm. I. Sumarya .SJ

1Sam1:24-28 ; Luk1:46-56

Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya Luk1:46-56, demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

Kutipan Warta Gembira diatas adalah kidung pujian Magnificat kidung pujian bagi mereka yang terpilih oleh Allah serta mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah. Kidung ini juga menjadi bagian dari Doa/Ibadat Harian para anggota lembaga hidup bakti serta klerus dan juga bagi para anggota Legio Mariae. Dalam kidung pujian ini terkandung dua isi pokok yaitu : pengakuan dan penghayatan iman bahwa Allah Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar dalam diri manusia yang hina dina (kerendahan hati) dan menjungkirk-balikkan atau memporak-porandakan paradigma manusia (kesombongan). Orang sombong akan hancur berantakan hidupnya dan menderita, sedangkan orang rendah hati akan hidup bahagia, selamat, damai sejahtera. Maka marilah kita hayati kerendahan hati dengan mengimani bahwa Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Kita semua adalah ciptaan Allah, apa yang baik, indah, mulia dan luhur dalam diri kita adalah karya Allah dalam diri kita yang hina dina ini. Maka jika dalam diri kita ada yang baik, ndah, mulia, luhur atau kita dalam keadaan sehat wal afiat, damai sejahtera, marilah hidup dengan penuh syukur dan terima kasih. Saat sukses kita bersyukur, saat gagal pun kita bersyukur. Sesungguhnya kekayaan dan kebahagiaan sejati ada di dalam rasa bersyukur (Andrie Wongso). Bersyukur adalah sikap dan perilaku yang tahu dan mau berterima kasih kepada Tuhan atas hikmat dan karunia yang telah dilimpahkanNya (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 13).Sejak dalam kandungan ibu sampai kini kita semua telah menerima kasih karunia Allah melalui saudara-saudari kita, maka marilah kita hidup dan bertindak saling bersyukur dan berterimakasih.

"Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN. Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan TUHAN telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN. 1Sam1:26-28, demikian kata Hana, seorang ibu/perempuan yang penuh syukur dan terima kasih karena dianugerahi anak. Kiranya doa atau kata-kata ini dapat menjadi teladan/pegangan bagi para ibu, yang telah dianugerahi anak. Kami berharap para ibu dengan rendah hati berani mempersembahkan anak-anaknya kepada Tuhan karena mereka adalah anugerah Tuhan, berasal dari Tuhan. Mempersembahkan anak-anak pada Tuhan antara lain berarti membina, mendidik dan mendampingi anak-anak sedemikian rupa sehingga tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas beriman, semakin mengasihi dan dikasihi oleh Tuhan dan sesamanya. Kelak kemudian hari ketika anak-anak telah dewasa menjadi man or woman for/with others, tidak egois dan tidak sombong. Jika anak-anak tumbuh berkembang menjadi orang dewasa yang demikian itu, kiranya para ibu khususnya akan merasa lebih bahagia di masa tuanya. Maka warisi anak-anak dengan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan kehidupan yang menyelamatkan, bukan harta benda atau uang. Hendaknya pembinaan, pendampingan dan pendidikan anak-anak menjadi opsi utama dalam segala sesuatu yang dikerjakan. Biarlah kelak anak-anak berani berkata dan bersaksi bahwa Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus.

Busur pada pahlawan telah patah, tetapi orang-orang yang terhuyung-huyung, pinggangnya berikatkan kekuatan. Siapa yang kenyang dahulu, sekarang menyewakan dirinya karena makanan, tetapi orang yang lapar dahulu, sekarang boleh beristirahat. Bahkan orang yang mandul melahirkan tujuh anak, tetapi orang yang banyak anaknya, menjadi layu. TUHAN mematikan dan menghidupkan, Ia menurunkan ke dalam dunia orang mati dan mengangkat dari sana.TUHAN membuat miskin dan membuat kaya; Ia merendahkan, dan meninggikan juga 1Sam2:4-7

Wednesday, December 24, 2008

dua bayi dalam palungan


Di tahun 1994, 2 orang Amerika menanggapi undangan Departemen Pendidikan
Rusia untuk mengajar Moral dan Etika berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab di
sekolah-sekolah umum. Mereka diundang mengajar di penjara, kantor, departemen
kepolisian, pemadam kebakaran, dan di sebuah tempat yatim piatu yang
besar.
Ada sekitar 100 anak laki-laki dan perempuan penghuni di situ,
yang
terbuang, ditinggalkan dan sekarang ditampung dalam program
pemerintah.
Beginilah kisah dalam kata-kata mereka:

Waktu itu mendekati musim libur tahun 1994, sewaktu anak-anak
yatim piatu
kita - untuk pertama kalinya - mendengar kisah Natal.
Kami cerita soal Maria
dan Yusuf, yang sesampai di Bethlehem, sebab
tak mendapat penginapan, lalu
pergi ke sebuah kandang binatang,
di mana bayi Yesus lahir dan diletakkan
dalam sebuah palungan.
Sepanjang cerita itu, anak-anak maupun staf rumah yatim itu terpukau
diam,
terpaku takjub mendengarkan. Beberapa di antaranya bahkan
duduk di ujung
depan sekali kursi mereka seakan agar bisa lebih
menangkap tiap kata. Seusai
cerita, semua anak-anak kami beri tiga
potong kertas karton untuk membuat
palungan, juga sehelai kertas
persegi, dan sedikit sobekan kertas napkin
berwarna kuning yang
kami bawa. Maklum, masa itu kertas berwarna sedang
langka di kota
ini.
Sesuai petunjuk anak-anak itu menyobek kertasnya, lantas dengan
hati-hati,
menyusun sobekan pita-pita seakan-akan itu jerami kuning
di palungan.
Potongan kecil kain flanel digunting dari gaun malam
bekas dari seorang ibu
Amerika saat meninggalkan Rusia - dipakai sebagai
selimut kecil bayi itu.
Bayi mirip bonekapun digunting dari lembaran
kulit tipis yang kami bawa dari
Amerika.
Mereka semua sibuk menyusun palungan masing-masing saat aku
berjalan
keliling, memperhatikan kalau-kalau ada yang butuh bantuan.
Semuanya
kelihatan beres, sampai aku tiba di meja si kecil Misha
(seorang
anak laki-laki). Kelihatannya ia sekitar 6 tahun dan sudah
menyelesaikan
proyeknya.
Sewaktu kulihat palungan bocah kecil ini, saya heran bahwa bukannya
satu,
melainkan ada dua bayi di dalamnya. Cepat kupanggil penterjemah
agar menanyai
anak ini kenapa ada dua bayi.
Dengan melipat tangannya dan mata menatap hasil karyanya, anak
ini mulai
mengulang kisah Natal dengan amat serius.
Untuk anak semuda dia yang baru sekali mendengar kisah Natal,
ia
mengurutkan semua kejadian demikian cermat dan telitinya - sampai
pada
bagian kisah di mana Maria meletakkan bayi itu ke dalam palungan.
Di sini si
Misha mengubahnya. Ia membuat penutup akhir kisah ini
demikian:
"Sewaktu Maria menaruh bayi itu di palungan, Yesus lalu
melihat aku dan
bertanya apa aku punya tempat tinggal. Aku bilang aku tak
punya mama dan tak
punya papa, jadi aku tak punya tempat untuk
tinggal. Lalu Yesus bilang aku
sih boleh tinggal sama dia. Tapi
aku bilang tidak bisa, sebab aku kan tidak
punya apa-apa yang
bisa kuberikan sebagai hadiah seperti orang-orang Majus
dalam kisah
itu. Tapi aku begitu ingin tinggal bersamanya, jadi aku pikir,
apa
yah yang aku punya yang bisa dijadikan hadiah. Aku pikir barangkali
kalau
aku bantu menghangatkan dia, itu bisa jadi hadiah."
"Jadi aku bertanya pada Yesus, ¡Kalau aku menghangatkanmu,
cukup tidak itu
sebagai kado?¢ Dan Yesus menjawab, ¡Kalau kamu menjaga dan
menghangatkan aku,
itu bakal menjadi hadiah terbaik yang pernah diberikan siapapun padaku.¢ Jadi
begitu, terus aku masuk dalam
palungan itu, lantas Yesus melihatku dan bilang
aku boleh kok tinggal
bersamanya - untuk selamanya."
Saat si kecil Misha berhenti bercerita, air matanya menggenang
meluber
jatuh membasahi pipinya yang kecil. Wajahnya ditutupi dengan
tangannya,
kepalanya ia jatuhkan ke meja and seluruh tubuh dan
pundaknya gemetar saat ia
menangis tersedu. Yatim piatu kecil ini
telah menemukan seseorang yang takkan
pernah melupakan atau
meninggalkannya, yang takkan pernah berbuat jahat
padanya, seseorang
yang akan tetap tinggal dan menemaninya - untuk selamanya.

Tuesday, December 23, 2008

Nilai Dalam Konstelasi Waktu

Waktu adalah suatu rentangan garis kontinuum. Yaitu garis yang membentang
terus menerus secara tidak terputus-putus. Malahan garis itu tidak
mempunyai titik awal. Dan belum sampai atau bahkan tidak mempunyai titik
ujung.

Otak manusia tidak mampu memahami garis spektakuler semacam itu. Maka otak
membaginya ke dalam dua bagian kelompok utama. Kedua kelompok utama itu
ialah kelompok "waktu sekarang" dan kelompok "bukan-sekarang". Bagian
pertama kelompok waktu "bukan-sekarang" ialah penggalan garis waktu dari
titik sekarang yang surut ke belakang. Disebut waktu lampau. Dan bagian
kedua, ialah penggalan garis waktu dari titik sekarang menuju ke
depan. Disebut
waktu mendatang.


From:


Karena titik waktu sekarang bersifat dinamis [terus bergerak] maka manusia
sebenarnya hanya mengenal waktu lampau dan waktu yang akan datang. Begitu
manusia berpikir tentang waktu sekarang maka periode itu serta merta telah
berubah menjadi bagian waktu lampau.

Pemenggalan waktu atau periodisasi mutlak dibutuhkan manusia. Ada jangka
pendek, menengah, dan panjang. Baik ke arah belakang, maupun ke arah
depan.

Disepakati kesatuan terkecil waktu ialah detik. [Kita lupakan saja istilah
nano-detik ataupun piko-detik]. Kemudian disepakati pula kesatuan menit,
jam, hari, minggu, bulan, tahun, windu, dekade, abad, milenium dan
seterusnya.

*Periodisasi waktu. *

Periodisasi waktu dibutuhkan manusia untuk mengorganisir data maupun
informasi yang tercakup dalam kurun waktu tersebut. Ke arah masa lampau
demi kepentingan sejarah. Ke arah masa depan demi perencanaan jangka
pendek, menengah dan panjang. Tanpa perencanaan manusia tidak mampu berbuat
apa-apa untuk menghasilkan keluaran secara efektif dan efisien.



*Kaitan periodisasi dengan nilai.*

Kejadian masa lampau disebut fakta. Dalam bahasa Latin 'factum' berarti
sudah dibuat atau sudah terjadi. Kalau sudah terjadi maka tidak bisa
berubah lagi. Tidak ada kekuatan apapun yang mampu mengubah kejadian di masa
lampau. Maka disebut juga data. Data dari kata 'datum' artinya 'telah
diberikan' atau 'telah tersedia'. Sudah siap saji atau siap ditelan.

Kejadian di masa lampau ada yang manis dan ada yang pahit. Manusia suka
mengenang hal-hal yang manis. Tetapi tidak suka mengenang hal-hal yang
pahit. Hal-hal yang pahit telah menggores semacam luka di dalam batin
manusia. Luka batin itu dapat bertahan untuk waktu yang panjang. Bahkan ada
yang sampai seumur hidup.

Sikap manusia terhadap peristiwa yang pahit dan tidak mungkin diubah lagi
itu pada umumnya menyesalkannya. Dari perasaan yang ringan seperti kecewa,
menyesal sampai kepada penyesalan seumur hidup. Setiap kali teringat
peristiwa tersebut maka luka batin kembali mengeluarkan "darah" disertai
rasa nyeri. Melebihi nyeri disayat sembilu. Sayatan sembilu dapat sembuh
tetapi luka batin dapat bertahan seumur hidup.

Walaupun ada pepatah: "Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak
berguna" dalam kenyataannya tidak ada yang namanya "sesal dahulu". Sesal
selalu terjadi sesuah kejadiannya [secara post factum].

*Nilai Ikhlas*

Menghadapi kemungkinan munculnya rasa sesal berkepanjangan dan tidak
produktif ini manusia perlu mengadopsi *nilai ikhlas*. Ikhlas adalah
kemampuan moral untuk menerima fakta sebagai data konstan. Sebagai hal yang
tidak bisa diubah lagi. Jadi harus diterima sebagai apa adanya saja. Dan
diterima sebagai hal yang terjadi di masa lampau yang tidak perlu terus
menerus disesali pada masa sekarang.



*Nilai Syukur*

Menghadapi peristiwa-peristiwa sekarang manusia dapat merasa kecewa. Kecewa
karena tidak sesuai dengan target atau harapan seseorang. Manusia
menginginkan sesuatu yang lebih maksimal lagi. Manusia tidak puas dengan
sesuatu yang sifatnya minimalis. Maunya menjadi kaya raya tetapi
kenyataannya hanya mampu menjadi pegawai rendahan. Maunya mendapat untung
miliaran, nyatanya hanya mendapatkannya dalam angka ribuan saja.



*Nilai syukur* ialah nilai yang memandang situasi dan kondisi tertentu,
[termasuk pencapaian tertentu], sebagai hasil optimal yang tersedia. Bersyukur
karena tidak terjadi kondisi yang lebih parah lagi dari pada kondisi yang
terjadi sekarang.



Misalnya, ia sakit namun tidak sakit parah. Ia sakit keras tetapi tidak
sampai fatal atau mematikan. Ia mengalami musibah tetapi bukan yang
mengharuskan anggota tubuhnya harus diamputasi. Ia tidak kaya namun tidak
sampai harus tinggal di kolong jembatan.



Bagi orang beriman [beragama] kondisi optimal itu dipandang sebagai karunia
Allah. Atau berkat dari pada doa. Bagi yang tidak beragama kondisi optimal
itu dipandang sebagai suatu kemujuran [good luck]. Bukan suatu kemujuran
yang bersifat kebetulan [acak]. Melainkan suatu sinkronitas yang
positif. Positif
karena tidak mendatangkan kerugian [lebih besar lagi] bagi dirinya. Karena
itu ia merasa perlu selalu bersyukur.



*Nilai Pasrah*

Menghadapi masa depan manusia dibekali oleh dua bentuk antisipasi kejiwaan.
Dua kekuatan yang antagonis. Harapan yang besar dan indah. Atau sebaliknya
kekuatiran akan kegagalan. Ada semangat optimisme dan pesimisme.
*Optima*artinya keadaan terbaik.
Sedangkan *pessima* artinya keadaan terburuk.



*Optimalisme*

Manusia yang mentargetkan hasil yang *maksimalis* akan merasa kecewa karena
hasil maksimal memang tidak selalu mungkin tercapai. Manusia
*minimalis*menetapkan target yang terlalu rendah, maka iapun kecewa
terhadap kenyataan
hasil sebenarnya yang memang hanya minimal. Di antara kedua ujung ekstrim
tersebut terdapat kondisi yang lebih realistis dan terjangkau yaitu sasaran
*optimalis*.



Manusia sadar bahwa ia dapat mempengaruhi *output* di masa depan dengan cara
mempengaruhi *input* pada masa sekarang. Tetapi ia sadar pula bahwa ia tidak
mungkin mengendalikan sepenuhnya masa depannya. Terlalu banyak lobang
kebocoran pada jala yang menjaring peluang-peluang masa depan.

Terlalu banyak faktor variabel berada di luar kemampuan pengendalian
manusia. Terutama ia tidak mungkin mampu untuk mengendalikan takdirnya. Takdir
adalah faktor *konstante* yang sama sekali di luar pengendaliannya.



Bahkan banyak hal yang dapat terjadi berada di luar perkiraannya. Hal-hal
yang dapat meleset dari perhitungannya. Misalnya, siapa dapat mengira bahwa
negara Amerika Serikat yang superpower itu dapat ambruk demikian parah oleh
krisis keuangan dalam negerinya.



Maka dari itu terdapat kecenderungan sebagian manusia untuk menyenangi
ramalan-ramalan paranormal. Karena paranormalisme mampu memberikan
[sebagian] informasi tentang masa depan yang tidak mungkin terjangkau oleh
penalaran logis biasa.



Bagi manusia beriman [beragama] dalam menghadapi ketidakpastian masa depan [
*future* *uncertainties*] perlu diperlengkapi dengan perisai *nilai
kepasrahan.* Bukan jenis pasrah yang membuat orang tengkurap dan membiarkan
segala sesuatunya diatur oleh nasib semata-mata.



*Ora et labora*. Manusia beriman dengan nilai kepasrahannya mengandalkan
kekuatan doa dalam pengharapan dan sekaligus juga ikhtiar [*labora*]. Orang
yang tidak percaya lagi kepada kekuatan doa serta berhenti berikhtiar,
segera menjadi manusia yang berada di tepi jurang keputusasaan.

Sebaliknya manusia yang beriman dan yang berpengharapan tidak akan jatuh ke
dalam lembah kekelaman tersebut.



Kita mungkin masih teringat akan kisah ibu yang tega menghabiskan nyawa
anak-anaknya sendiri karena dikuasai rasa kuatir yang berlebihan. Kuatir
melihat fakta kondisi masyarakat yang semakin kompetitif di kemudian
hari. Kuatir
karena melihat kenyataan bahwa kemampuan anak-anaknya untuk bersaing dalam
kondisi semacam itu pasti bakal kalah sebelum berperang. Maka sebagai orang
tua yang bertanggungjawab ia memutuskan untuk menghindarkan kehancuran
semacam itu bagi anak-anaknya. Jalan pintas yang dipakainya ialah
menghentikan saja hidup anak-anaknya. *She was playing God.*



Orang semacam ini dapat saja beragama dan beribadah namun memiliki iman dan
harapan yang sangat minimalis. Ia hanya terpukau oleh kekuatan manusia
sendiri. Dalam hal ini kekuatan anak-anaknya untuk bersaing sendiri– di
kemudian hari. Ia meniadakan sama sekali peranan Allah sebagai yang
memberikan rezeki kepada semua manusia tanpa kecuali. Padahal Allah selalu
memberi panas matahari dan curah hujan kepada semua mahluk tanpa kecuali.



Manusia tidak percaya lagi terhadap kekuatan doa. Terhadap kekuatan
pengharapan [*ekspektansi*]. Dan terhadap kodrat Allah Yang Mahapemurah dan
Mahapenyelenggara. Mahapengasih dan Mahapenyayang. Manusia seperti itu
adalah manusia yang tidak mengadopsi nilai pasrah dan tawakkal ke dalam
koleksi sistem nilainya.



Jadi dapat disimpulkan bahwa manusia cukup dilengkapi nilai-nilai moral
[religi] yang dibutuhkan. Baik untuk menghadapi kenyataan di masa lampau, di
masa sekarang, maupun di masa yang akan datang.

Untuk menghadapi masa lampau ia dapat mengadopsi nilai ikhlas. Untuk masa
yang sedang berjalan ia dapat mengadopsi nilai syukur. Dan untuk menghadapi
tantangan masa depan ia dapat mengadopsi nilai pasrah dan tawakkal.



Mudahkah mengadopsi ketiga nilai moral [religi] tersebut?

Mengadopsi suatu nilai harus bersifat sukarela. Sungguh-sungguh diniatkan.
Dan pastilah memerlukan bantuan kekuatan illahi. Yaitu kekuatan di luar
kemampuan kodrati manusia. Manusia memerlukan bantuan illahi untuk mampu
mempertahankan nilai-nilai tersebut. Bantuan ilahi itu oleh orang beriman
disebut sebagai *rahmat'ullah* atau *kharismata. *Kekuatan yang dapat
diperoleh lewat doa-doa yang tekun. Doa yang berasal dari lubuk hati
manusia yang terdalam. Bukan sekedar doa verbal yang bacar keluar dari
mulut. Atau sekedar doa dari hasil olah pikiran atau perasaan manusia
semata. [JS]

SATU TUHAN, SATU IMAN & SATU BAPTISAN.

Seringkali di dalam kehidupan di dunia ini, kita mengetahui, menjumpai, mendengar bahkan masih sering mendengar bahwa ada sebagian dari umat Kristiani yang beranggapan atau mempunyai cara berpikir atau mempunyai pola pikir, atau bahkan meng-imani bahwa perpecahan yang terjadi diantara umat Kristiani saat ini adalah merupakan sebuah rencana Tuhan ( ? ).

Mereka percaya bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah merupakan bagian dari rencana Tuhan. Mereka percaya bahwa perpecahan adalah merupakan sebuah SOLUSI untuk menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik, untuk merubah keadaan menjadi semakin baik. Malahan mereka percaya bahwa apa yang terjadi sekarang ini (perpecahan) adalah demi untuk mewujudkan apa yang dikehendaki oleh Allah ( ? )

Apakah benar perpecahan adalah sebuah SOLUSI untuk menjadikan segala sesuatu menjadi semakin baik ??
Apakah benar perpecahan merupakan sebuah rencana Tuhan ??
Apakah benar Tuhan menghendaki adanya perpecahan diantara anak-anak-Nya ?
Apakah benar Tuhan menghendaki “ Tubuh-Nya terpecah-pecah “ ??

Saya tidak mengerti apa dasar kepercayaan mereka bahwa perpecahan adalah sebuah solusi untuk menjadikan segala sesuatu menjadi semakin baik. Jika kita semua merasa diri kita sama yaitu sebagai pengikut Kristus, maka tentu seharusnya kita dapat bersatu menjadi satu. ( Perpecahan dapat terjadi karena adanya perbedaan ).

Bapak / Ibu dan Saudara-saudari terkasih, kita sebagai Umat Katolik tetaplah terus berpegang teguh pada apa yang kita yakini sampai saat ini yaitu : Injil, Tradisi dan Magisterium. Jangan bimbang dan jangan ragu, dan hendaknya kita semua senantiasa berpegang teguh pada Firman Tuhan seperti apa yang tertulis di dalam Injil Tuhan.

Bapak / Ibu dan saudara-saudari terkasih, janganlah kita memberi diri kita disesatkan orang dengan cara bagaimanapun juga, seperti apa yang tertulis di dalam Injil.

Mari kita baca di dalam :

II Tesalonika 2: 3.
2:3 Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa,
2:4 yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.

Lukas 21: 7-8.
21:7 Dan murid-murid bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?"
21:8 Jawab-Nya: "Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka.
Bapak / Ibu dan Saudara-saudari terkasih, adalah tidak benar bahwa perpecahan adalah sebuah solusi untuk membuat segala sesuatu menjadi semakin baik, adalah tidak benar bahwa perpecahan adalah bagian dari rencana Tuhan, dan adalah tidak benar bahwa Tuhan menghendaki “ Tubuh-Nya terpecah-pecah “.

Jika kita berpegang teguh pada Injil Tuhan, tentu kita mengetahui bahwa Yesus berdoa untuk murid-muridnya sebagai berikut :

Mari kita baca di dalam :

Yohanes 17 : 20 – 23.
17:20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;
17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
17:22 Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:
17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.
Dari ayat-ayat tersebut diatas, sudah sangat jelas dan sudah sangat gamblang bahwa Yesus berdoa kepada Bapa-Nya agar murid-murid- Nya semua menjadi satu. Bahkan lebih jauh lagi, Yesus menghendaki agar murid-murid- Nya semuanya Sempurna Menjadi Satu ( Yoh 17: 23 ).

Jika kita baca dengan teliti maka kita akan mendapati bahwa Yesus mengatakan: menjadi satu, sebanyak 3x (tiga kali ), yaitu: pada ayat: 21, 22 dan 23. Ini adalah sebuah penegasan yang sudah sangat jelas dan sudah sangat gamblang bahwa Tuhan tidak menghendaki adanya perpecahan di antara murid-murid- Nya, Tuhan tidak menghendaki adanya perpecahan diantara “ anak-anak-Nya “.

Apakah yang dikatakan oleh Yesus tentang terpecah-pecah ??

Mari kita baca di dalam :
Matius 12:
12:22 Kemudian dibawalah kepada Yesus seorang yang kerasukan setan. Orang itu buta dan bisu, lalu Yesus menyembuhkannya, sehingga si bisu itu berkata-kata dan melihat.
12:23 Maka takjublah sekalian orang banyak itu, katanya: "Ia ini agaknya Anak Daud."
12:24 Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: "Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan."
12:25 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata kepada mereka: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa dan setiap kota atau rumah tangga yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan.
12:26 Demikianlah juga kalau Iblis mengusir Iblis, ia pun terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri; bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan?

Mari kita baca di dalam :
Markus 3:
3:22 Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Ia kerasukan Beelzebul," dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan."
3:23 Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: "Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?
3:24 Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan,
3:25 dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan.
3:26 Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya.

Mari kita baca di dalam :
Lukas 11:
11:14 Pada suatu kali Yesus mengusir dari seorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Maka heranlah orang banyak.
11:15 Tetapi ada di antara mereka yang berkata: "Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan."
11:16 Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia.
11:17 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.
11:18 Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata, bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul.
Dari ayat-ayat Injil tersebut diatas, maka sudah sangat jelas, dan sudah sangat gamblang bahwa: setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, setiap kerajaan yang terpecah-pecah tidak dapat bertahan, demikian pula dengan rumah-tangga yang terpecah-pecah, rumah-tangga itu tidak dapat bertahan.

Apa yang tertulis di dalam Injil tentang persatuan “ tubuh Kristus “ ?

Mari kita baca di dalam :
Efesus 4:
4:1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.
4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.
4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:
4:4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,
4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,
4:6 satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua.
4:7 Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.

Dari ayat-ayat Injil tersebut diatas, maka sudah sangat jelas dan sudah sangat gamblang bahwa kita sebagai pengikut Kristus hendaklah menjadi: satu tubuh, satu Roh, satu Tuhan, satu Iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang diatas semua dan oleh semua dan di dalam semua.

Isi dari bacaan Injil tersebut diatas adalah sama dengan apa yang dikehendaki oleh Yesus ketika berdoa untuk murid-murid- Nya, agar murid-murid- Nya SEMPURNA MENJADI SATU ( Yoh.17: 23 ).

Maka marilah Bapak / Ibu dan Saudara-saudari terkasih, kita tetap terus berdoa dan tetap terus berpegang teguh pada Injil Tuhan agar apa yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus supaya kita semua SEMPURNA MENJADI SATU dapat terlaksana dan dapat diwujudkan.

Karena jika nanti Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya dengan kemuliaan-Nya, maka didapati-Nya “ tubuh-Nya sudah bersatu “, karena jika “tubuh-Nya tidak bersatu” maka Tuhan Yesus tidak mungkin akan datang.

Karena Tuhan Yesus adalah “Kepala”, dan kita semua adalah “Tubuh-Nya”. Kepala akan dapat bersatu dengan tubuh jika dan hanya jika “ tubuh-Nya “ tersebut tidak terpecah-pecah atau tidak tercabik-cabik oleh perpecahan.

Demikianlah renungan yang ingin saya sampaikan, semoga renungan ini dapat bermanfaat untuk umat Kristiani, khususnya Umat Katolik !!

Semoga kita semua di bimbing, dilindungi dan diberkati oleh Allah Bapa yang Maha Kuasa: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin !!



Salam Damai Sejahtera,

FX.Pebrijana Sunardi.
Kelapa Gading Permai,
Jakarta Utara 14240.
INDONESIA.

Bacaan: Lukas 1: 46-56

Siapa yang tidak senang dengan pujian? Bisa dipastikan bahwa ketika dipuji
oleh orang lain, entah alasan apa pun, kita pasti akan senang. Tetapi, kita
terkadang kurang rendah hati sehingga menganggap diri sebagai orang yang
hebat dan istimewa setelah mendapatkan pujian itu. Kita kemudian menuntut
untuk dihargai dan diakui oleh orang lain!

Peristiwa Maria mengunjungi Elisabet merupakan sesuatu yang sangat penting
dan bahkan begitu punya pengaruh besar terhadap Elisabet yang sedang
mengandung anaknya dalam usia yang sudah lanjut. Karena perjumpaan dengan
Maria begitu berarti, lantas dia memuji Maria dengan penuh kerendahan hati:
"*Diberkatilah Engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah
rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku (Luk
1:42-43)*." Maria tidak besar kepala! Tetapi, setelah mendengarkan pujian
itu, Maria mengidungkan pujian (*magnificat) *atas kasih, kebesaran, dan
kuasa Tuhan dalam hidupnya. Dia mengakui dengan penuh kerendahan hati bahwa
segala apa yang dia alami dan dimilikinya, sehingga segela keturunan akan
menyebut dia berbahagia, adalah pertama-tama bukan karena kehebatannya,
melainkan karena kasih Tuhan semata. Segala pujian yang diterimanya
dipersembahkan kembali kepada Allah yang telah menunjukkan kemurahan dan
kesetiaan kepadanya.

Ada banyak hal yang kita capai di dalam hidup kita. Tetapi, apakah kita
pernah sadar bahwa segala apa yang kita terima adalah semata-mata pemberian
dari Allah? Apakah kita pernah bersyukur dan mempersembahkan kembali kepada
Allah atas apa yang telah kita capai? Mari, kita meneladan kerendahan hati
Maria yang senantiasa sadar tentang dirinya sebagai orang yang dikasihi oleh
Allah dan selalu menyediakan dirinya sebagai alat-Nya. *(bastian-wawan, cm)*

--
Syalom :)

oleh: Fr. Bastian-Wawan, CM

Janji Allah yang Telah Menetas

Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. (Yesaya 9:5 )

"Natal" dalam bahasa Mandarin adalah 圣诞节 - "shèng dàn jié" (harfiah : festival of sacred birth, perayaan kelahiran suci). Kalau diambil dari persamaan bunyi, ada kata 生蛋 - "shēng dàn" berarti "telur menetas". Telur senantiasa bermakna kehidupan. Kita juga melakukan "tradisi" peringatan Paskah dengan telur, yang diartikan sebagai lambang cikal bakal kehidupan. Kelahiran Kristus adalah wujud janji Allah yang dikumandangkan sejak Adam-Hawa jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3:15) dan disampaikan berulang-ulang dalam Perjanjian Lama, yang paling jelas pada Yesaya 7:14 yang menulis seorang perawan akan melahirkan seorang Bayi-perjanjian. Kedatangan Kristus yang lahir dengan cara alami dan manusiawi ini memberikan anugerah kehidupan yang kekal bagi siapa saja yang percaya kepadaNya.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Apa yang kita peringati dalam Natal adalah adalah pengucapan syukur terhadap segala belas-kasihan dan anugerah kehidupan dari Allah kita. Robert Oppenheimer (1904–1967) seorang ilmuwan, ia bukan seorang Kristen, tapi ia pernah mengatakan : "cara menyampaikan gagasan adalah membungkusnya dengan seseorang". Allah telah menyatakan pesannya kepada semua umat di dunia melalui inkarnasi dalam Yesus Kristus, bahwa didalam Dia ada keselamatan. Bahwa Allah yang Mahatinggi telah menjelma menjadi manusia.

Natal dan Paskah senantiasa diperingati secara istimewa oleh umat Kristiani, betapapun ada saja kritik bahwa perayaannya menyerap tradisi-tradisi kafir. Namun, kita tahu dan sangat sadar betul bahwa kita bukan memperingati sesuatu hal yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Alkitab, sebaliknya kita memperingati kedatangan Allah kita yang rela lahir sebagai manusia, mati dan bangkit untuk misi keselamatan (2 Timotius 2:8). Suasana, semangat dan damai Natal justru banyak membawa orang datang kepada Kristus. Dan menjadi momen yang baik bagi keluarga-keluarga dan para sahabat-sahabat untuk berkumpul menikmati kebersamaan. Manusia hidup sangat memerlukan hubungan/ interaksi dengan sesamanya. Tanpa persekutuan antar sesama, hidup tidak akan berarti.

Allah telah menganugerahkan kehidupan yang kekal, melalui kelahiran Sang Putra (Yesaya 9:5). Istilah yang unik dari bahasa Mandarin tentang Natal yang merujuk kepada "telur yang menetas" menyatakan suatu lambang kehidupan yang asalnya memang dari Allah saja.

Amin.


Blessings in Christ,
Bagus Pramono

Ia melawat umatNya dan membawa kelepasan baginya

BY:
(2Sam 7:1-5.8b-12. 16; Luk 1:67-79)

“Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh
Kudus
, lalu bernubuat, katanya: "Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia
melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk
keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang
telah difirmankan- Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus --
untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci
kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan
perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa
leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan
musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di
hadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah
Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk
mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan
keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan
belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi
dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan
dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”(Luk 1:67-79), demikian kutipan Warta Gembira hari
ini.



Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· Kelahiran anak pertama bagi suami-isteri/ keluarga baru
pada umumnya merupakan kebahagiaan khusus, ‘membawa
kelepasan bagi mereka berudua sebagai pasangan hidup’, antara mereka
menjadi bapak dan ibu dan dengan demikian tidak menjadi bahan pergunjingan
seagaimana sering terjadi ketika sepasang suami-isteri telah lama menikah namun
tidak dikaruniai anak.Dalam warta gembira hari ini secara khusus ‘kelepasan’ terjadi dalam diri Zakharia, dia yans semula
bisu kini dapat bebicara, berkata-kata, dan begitu dapat berbicara atau berkata-kata
lagi Zakharia langsung mengumandangkan kidung pujian kepada Allah, yang telah
melawatinya. Memang dengan kelahiran seorang anak juga akan terjadi pembaharuan
dan tentu saja yang diharapkan adalah pembaharuan yang baik, antara lain ‘mengarahkan kaki para orangtua kepada jalan
damai sejahtera’. Maka marilah menjelang pesta kelahiran Penyelamat Dunia, Natal, ini kita arahkan hati, jiwa, akal budi dan tubuh
kita kepada jalan damai sejahtera, karena yang akan kita rayakan atau kenangkan
adalah Pembawa Damai Sejahtera bagi seluruh dunia/bumi. Marilah membuka disi
sepenuhnya terhadap aneka macam ajakan, sentuhan, saran atau nasihat untuk
membangun hidup damai sejahtera yang menjadi dambaan semua orang, damai
sejahtera yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita semua. Mariilah kita ‘beridabah kepadaNya tanpa takut, dalam
kekudusan dan kebenaran di hadapanNya seumur hidup kita’, artinya
mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, Penyelengaraan Ilahi sampai mati
dengan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendakNya, sehingga dimanapun dan
kapanpun kita senantiasa berbudi pekerti luhur.

· “ Aku telah
menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala
musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar
yang ada di bumi” (2Sam 7:9). Tuhan
hadir di mana-mana dan sepanjang masa, ketika kita istirahat atau tertidur Ia
terus bekerja dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, bagaikan ‘jantung kita’
yang terus bekerja sementara kita tidur atau istirahat. Apa yang disebut
‘jantung’ pada umumnya penting dan besar namannya, misalnya jantung kota, jantung hati, dst.. Masing-masing dari kita adalah
‘jantung hati’ dan diharapkan menjadi besar nama kita ‘seperti nama-nama besar yang ada di bumi’. Mereka yang memperoleh
nama besar di bumi pada umumnya mempersembahkan hidup dan kerja seutuhnya demi
kesejahteraan umum, terutama memberi perhatian bagi mereka yang miskin dan
berkekurangan. Penyelamat Dunia yang kita nantikan kedatanganNya akan lahir di
dalam suasana yang miskin dan serba berkurangan, di dalam kegelapan malam, di
kandang domba-domba yang kotor dst.. Maka baiklah agar kita dapat mengenangkan
atau merayakan kedatanganNya di malam Natal nanti, kita arahkan perhatian kita kepada sesama dan
saudara-saudari kita yang miskin dan berkekurangan, kita ajak mereka untuk
berpartisipasi dalam kebahagiaan damai Natal. Hendaknya juga diperhatikan secara khusus anak-anak
atau bayi yang dalam arti tertentu juga dalam keadaan miskin dan berkekurangan,
namun memiliki harapan masa depan yang besar. Kita persembahkan anak-anak dan
bayi-bayi kita kepada Tuhan, Penyelamat Dunia yang berbaring di palungan,
dengan harapan dan permohonan semoga anak-anak dan bayi-bayi kita kelak
kemudian hati tumbuh berkembang memiliki nama besar di bumi, karena mereka
berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia sepanjang hidupnya.



“Aku hendak menyanyikan kasih setia
TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku
turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu
tegak seperti langit. Engkau telah berkata: "Telah Kuikat perjanjian
dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku: Untuk
selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu
turun-temurun. " (Mzm 89:2-5)